GreenPeace Persembahkan Piala Kepada Pemimpin Dunia Penyebab Kegagalan Iklim
Selasa, 23 Maret 2010 12:45:30 - oleh : Arif-NMA Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
Dalam aksi ini para aktivis Greenpeace mempersembahkan Piala Karbon
Dioksida (CO2) kepada Presiden Amerika Barrack Obama dan medali áib’
kepada Perdana Menteri Kanada Stephen Harper dan Perdana Menteri
Australia Kevin Rudd sebagai penanda kegagalan mereka di Kopenhagen.
Dalam perdebatan alot di malam terakhir konferensi iklim, pemerintah
Amerika Serikat menyetujui sesuatu yang disebut Copenhagen Accord
(Kesepakatan Kopenhagen), yang sampai saat ini masih menjadi deklarasi
politik, belum diadopsi menjadi hasil formal konferensi Kopenhagen.
“Copenhagen Accord belum menjadi kesepakatan mengikat bagi jutaan orang
seperti yang diharapkan semuanya di pertemuan Kopenhagen, dan harus
dilihat sebagai deklarasi politik yang lemah, di saat negara-negara
mengetahui bahwa mereka harus menjaga kenaikan temperatur di bawah dua
derajat celsius,” ujar Von Hernandez, Direktur Eksekutif Greenpeace
Asia Tenggara.
Äccord itu merugikan masyarakat Asia Tenggara, kawasan yang paling rentan dan paling tidak siap menghadapi perubahan iklim.
Accord itu menyebutkan tujuan “menghindari kenaikan temperatur di bawah dua derajat celsius”.
Meski demikian, sebuah catatan rahasia dari Sekretariat Konvensi Iklim
PBB memperlihatkan bahwa kesepakatan yang diambil negara-negara itu
akan menyebabkan kenaikan temperatur hingga tiga derajat celsius, yang
melebihi batas aman seperti yang diindikasikan oleh semua penelitian.
Untuk menghindari bencana perubahan iklim, Greenpeace mendesak negara
industri maju untuk menurunkan emisi hingga 40% dari level 1990 pada
2020 dan negara-negara berkembang untuk menurunkan emisi mereka hingga
30%.
“Greenpeace mendesak semua negara untuk meneruskan negosiasi menuju
kesepakatan yang ambisius, adil dan mengikat di pertemuan Meksiko akhir
tahun ini,” ujar Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia
Tenggara.
Pekerjaan harus dimulai untuk memenuhi ini. Atau Meksiko beresiko mengulangi kegagalan Kopenhagen.
Greenpeace mendesak:
1) Pemerintahan menyepakati dilanjutkannya Protokol Kyoto pada periode
kedua dan mengadopsi protokol kedua berisi penurunan emisi oleh negara
maju dan aksi mitigasi oleh negara berkembang oleh COP 16, di pertemuan
Meksiko 29 November 2010 mendatang.
2) Negara maju sebagai sebuah kelompok, mengajukan komitmen mengurangi
emisi paling tidak 40% di bawah level 1990 pada 2020, paling tidak
sepertiganya untuk memenuhi kebutuhan domestik.
3) Negara maju untuk menyediakan dana mencukupi, paling tidak 140
miliar US Dollar per tahun, untuk menyokong program energi bersih dan
mitigasi lain, perlindungan hutan serta adaptasi perubahan iklim di
negara berkembang.
4) Negara berkembang untuk menyusun aksi mitigasi dalam rangka
mencapai 15-30% deviasi dari kegiatan sehari-hari penyebab emisi pada
2020. Dari semua pengurangan emisi ini, negara berkembang akan
mengimplementasikan harga nol dan negatif yang bisa dicapai tanpa
bantuan eksternal, sementara negara maju membantu di bidang lain.
5) Semua negara menyediakan mekanisme pendanaan untuk menghentikan
laju deforestasi dan emisi lain di negara berkembang pada 2020, dan
mencapai nol deforestasi pada 2015 di wilayah yang menjadi prioritas
seperti Amazon, Kongo, Hutan Tropis Indonesia dan Papua New Guinea.
Pengurangan emisi ini harus menjadi penambahan dari pengurangan emisi
yang sudah termasuk dalam paragraf dua.
Selasa, 23 Maret 2010 12:45:30 - oleh : Arif-NMA Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
Dalam aksi ini para aktivis Greenpeace mempersembahkan Piala Karbon
Dioksida (CO2) kepada Presiden Amerika Barrack Obama dan medali áib’
kepada Perdana Menteri Kanada Stephen Harper dan Perdana Menteri
Australia Kevin Rudd sebagai penanda kegagalan mereka di Kopenhagen.
Dalam perdebatan alot di malam terakhir konferensi iklim, pemerintah
Amerika Serikat menyetujui sesuatu yang disebut Copenhagen Accord
(Kesepakatan Kopenhagen), yang sampai saat ini masih menjadi deklarasi
politik, belum diadopsi menjadi hasil formal konferensi Kopenhagen.
“Copenhagen Accord belum menjadi kesepakatan mengikat bagi jutaan orang
seperti yang diharapkan semuanya di pertemuan Kopenhagen, dan harus
dilihat sebagai deklarasi politik yang lemah, di saat negara-negara
mengetahui bahwa mereka harus menjaga kenaikan temperatur di bawah dua
derajat celsius,” ujar Von Hernandez, Direktur Eksekutif Greenpeace
Asia Tenggara.
Äccord itu merugikan masyarakat Asia Tenggara, kawasan yang paling rentan dan paling tidak siap menghadapi perubahan iklim.
Accord itu menyebutkan tujuan “menghindari kenaikan temperatur di bawah dua derajat celsius”.
Meski demikian, sebuah catatan rahasia dari Sekretariat Konvensi Iklim
PBB memperlihatkan bahwa kesepakatan yang diambil negara-negara itu
akan menyebabkan kenaikan temperatur hingga tiga derajat celsius, yang
melebihi batas aman seperti yang diindikasikan oleh semua penelitian.
Untuk menghindari bencana perubahan iklim, Greenpeace mendesak negara
industri maju untuk menurunkan emisi hingga 40% dari level 1990 pada
2020 dan negara-negara berkembang untuk menurunkan emisi mereka hingga
30%.
“Greenpeace mendesak semua negara untuk meneruskan negosiasi menuju
kesepakatan yang ambisius, adil dan mengikat di pertemuan Meksiko akhir
tahun ini,” ujar Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia
Tenggara.
Pekerjaan harus dimulai untuk memenuhi ini. Atau Meksiko beresiko mengulangi kegagalan Kopenhagen.
Greenpeace mendesak:
1) Pemerintahan menyepakati dilanjutkannya Protokol Kyoto pada periode kedua dan mengadopsi protokol kedua berisi penurunan emisi oleh negara maju dan aksi mitigasi oleh negara berkembang oleh COP 16, di pertemuan Meksiko 29 November 2010 mendatang.
2) Negara maju sebagai sebuah kelompok, mengajukan komitmen mengurangi emisi paling tidak 40% di bawah level 1990 pada 2020, paling tidak sepertiganya untuk memenuhi kebutuhan domestik.
3) Negara maju untuk menyediakan dana mencukupi, paling tidak 140 miliar US Dollar per tahun, untuk menyokong program energi bersih dan mitigasi lain, perlindungan hutan serta adaptasi perubahan iklim di negara berkembang.
4) Negara berkembang untuk menyusun aksi mitigasi dalam rangka mencapai 15-30% deviasi dari kegiatan sehari-hari penyebab emisi pada 2020. Dari semua pengurangan emisi ini, negara berkembang akan mengimplementasikan harga nol dan negatif yang bisa dicapai tanpa bantuan eksternal, sementara negara maju membantu di bidang lain.
5) Semua negara menyediakan mekanisme pendanaan untuk menghentikan laju deforestasi dan emisi lain di negara berkembang pada 2020, dan mencapai nol deforestasi pada 2015 di wilayah yang menjadi prioritas seperti Amazon, Kongo, Hutan Tropis Indonesia dan Papua New Guinea. Pengurangan emisi ini harus menjadi penambahan dari pengurangan emisi yang sudah termasuk dalam paragraf dua.
1) Pemerintahan menyepakati dilanjutkannya Protokol Kyoto pada periode kedua dan mengadopsi protokol kedua berisi penurunan emisi oleh negara maju dan aksi mitigasi oleh negara berkembang oleh COP 16, di pertemuan Meksiko 29 November 2010 mendatang.
2) Negara maju sebagai sebuah kelompok, mengajukan komitmen mengurangi emisi paling tidak 40% di bawah level 1990 pada 2020, paling tidak sepertiganya untuk memenuhi kebutuhan domestik.
3) Negara maju untuk menyediakan dana mencukupi, paling tidak 140 miliar US Dollar per tahun, untuk menyokong program energi bersih dan mitigasi lain, perlindungan hutan serta adaptasi perubahan iklim di negara berkembang.
4) Negara berkembang untuk menyusun aksi mitigasi dalam rangka mencapai 15-30% deviasi dari kegiatan sehari-hari penyebab emisi pada 2020. Dari semua pengurangan emisi ini, negara berkembang akan mengimplementasikan harga nol dan negatif yang bisa dicapai tanpa bantuan eksternal, sementara negara maju membantu di bidang lain.
5) Semua negara menyediakan mekanisme pendanaan untuk menghentikan laju deforestasi dan emisi lain di negara berkembang pada 2020, dan mencapai nol deforestasi pada 2015 di wilayah yang menjadi prioritas seperti Amazon, Kongo, Hutan Tropis Indonesia dan Papua New Guinea. Pengurangan emisi ini harus menjadi penambahan dari pengurangan emisi yang sudah termasuk dalam paragraf dua.
Menu Pilihan
Visi,Misi & Tujuan
Kategori Berita

kirim ke teman
versi cetak
Website :
Email : info@sman1bangil.sch.id
Jl.Bader No 3 Kalirejo Bangil Pasuruan Jawa Timur Telp : (0343)741873 Fax : (0343)747219